JAKARTA, KOMPAS.com — Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri Dino Patti Djalal membenarkan penundaan kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia hingga Juni 2010.
Menurut Dino, Jumat (19/3/2010) dini hari, pihak Gedung Putih telah menghubunginya secara langsung untuk mengabarkan penundaan tersebut. "Komunikasinya tidak langsung dari Presiden Obama kepada Presiden Yudhoyono. Tapi, dari pihak Gedung Putih langsung kepada saya," ujarnya.
Namun, Dino belum mau menjelaskan perubahan agenda kunjungan akibat penundaan tersebut serta reaksi Presiden Yudhoyono terhadap penundaan kedatangan Obama itu. "Besok saja saya kasih penjelasan," ujar Dino.
Dino hanya membenarkan alasan penundaan adalah akibat situasi politik di Amerika Serikat karena reformasi sistem pelayanan kesehatan yang diajukan oleh Presiden Obama belum diloloskan oleh Parlemen.
Sementara itu, kantor berita AFP dan Reuters telah memberitakan bahwa Presiden Obama menunda kunjungan ke Indonesia dan Australia hingga Juni 2010.
Berita itu mengutip Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs yang mengatakan bahwa pihak AS telah menghubungi langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta Perdana Menteri Australia Kevin Rudd untuk menyampaikan penundaan itu.
Sebelumnya, Presiden Obama dijadwalkan tiba di Indonesia pada 23 Maret 2010 untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Kunjungan itu pun telah diundur dari semula direncanakan pada 18 Maret 2010.
Kamis, 18 Februari 2010
Arsenal Kalah karena Gol "Katrok"
Kamis, 18/2/2010 | 08:09 WIB
PORTO, KOMPAS.com — Kapten Arsenal, Cesc Fabregas, kecewa dengan dua gol yang bersarang ke gawang timnya saat melawan FC Porto. Gol itu tidak bermutu, gol katrok tipikal pemain bocah.
Dua gol itu tercipta karena kesalahan pertahanan "The Gunners". Gol pertama bisa dikatakan sebagai gol bunuh diri kiper Lucasz Fabianski. Pemain Polandia itu terlalu maju saat menghadapi tendangan Silvestre Varela pada menit ke-11. Meski berhasil menggapai bola, tangkapan Fabianski tak sempurna sehingga bola masuk gawang.
Gol kedua lebih konyol lagi. Sol Campbell menyentuh bola yang sedang bergulir ke arah Fabianski. Sang kiper menangkapnya sehingga wasit memberikan hukuman tendangan bebas di kotak penalti Arsenal. Semua pemain Arsenal tak siap ketika Ruben Micael dan Radamel Falcao bergerak cepat mengeksekusi bola mati.
"Gol-gol anak sekolahan. Apa yang bisa Anda perbuat? Tidak ada. Setelah gol kedua, (mental) kami jatuh," komentar playmaker asal Spanyol itu.
"Kami masih agak lemah dalam hal itu. Ketika Anda kebobolan sebuah gol, Anda tidak cukup kuat untuk membangkitkan diri sendiri. Sampai gol kedua, kami bermain baik," tambahnya.
"The Londoners" sebetulnya sedikit menguasai alur bola dalam laga tersebut. Namun, minimnya peluang mencetak gol menjadi kendala bagi Fabregas dan kawan-kawan.

Kamis, 18/2/2010 | 08:09 WIB
PORTO, KOMPAS.com — Kapten Arsenal, Cesc Fabregas, kecewa dengan dua gol yang bersarang ke gawang timnya saat melawan FC Porto. Gol itu tidak bermutu, gol katrok tipikal pemain bocah.
Dua gol itu tercipta karena kesalahan pertahanan "The Gunners". Gol pertama bisa dikatakan sebagai gol bunuh diri kiper Lucasz Fabianski. Pemain Polandia itu terlalu maju saat menghadapi tendangan Silvestre Varela pada menit ke-11. Meski berhasil menggapai bola, tangkapan Fabianski tak sempurna sehingga bola masuk gawang.
Gol kedua lebih konyol lagi. Sol Campbell menyentuh bola yang sedang bergulir ke arah Fabianski. Sang kiper menangkapnya sehingga wasit memberikan hukuman tendangan bebas di kotak penalti Arsenal. Semua pemain Arsenal tak siap ketika Ruben Micael dan Radamel Falcao bergerak cepat mengeksekusi bola mati.
"Gol-gol anak sekolahan. Apa yang bisa Anda perbuat? Tidak ada. Setelah gol kedua, (mental) kami jatuh," komentar playmaker asal Spanyol itu.
"Kami masih agak lemah dalam hal itu. Ketika Anda kebobolan sebuah gol, Anda tidak cukup kuat untuk membangkitkan diri sendiri. Sampai gol kedua, kami bermain baik," tambahnya.
"The Londoners" sebetulnya sedikit menguasai alur bola dalam laga tersebut. Namun, minimnya peluang mencetak gol menjadi kendala bagi Fabregas dan kawan-kawan.







